Rabu, 31 Oktober 2012
Senin, 15 Oktober 2012
5 Karakter Para Inovator
Menarik membaca buku yang ditulis oleh Carmine Gallo berjudul Rahasia Inovasi Steve Jobs (The Innovation Secrets of Steve Jobs). Yang membuat menarik adalah karena Carmine Gallo tidak hanya bercerita tentang bagaimana Steve Jobs membuat inovasi, tapi juga menguraikan bagaimana para inovator lain berdjoeang untuk menghasikan karya-karya besar yang bermanfaat untuk manusia. Gallo juga berhasil menyajikan sebuah benang merah, mengumpulkan karakter-karakter penting yang wajib dimiliki oleh seorang inovator. Dengan karakter-karakter inilah, para inovator bergerak dan berdjoeang sehingga akhirnya bisa menghasilkan karya inovasi yang legendaris di dunia ini. Pada tulisan ini saya menyajikan 5 karakter yang wajib dimiliki oleh para inovator, yang saya rangkumkan dari tulisan Carmine Gallo dan beberapa ide lain dari tulisan-tulisan saya di blog ini sebelumnya. Materi ini juga pernah saya sampaikan di seminar tentang technopreneurship di beberapa kampus. Kamis, 11 Oktober 2012
Menghancurkan Tembok Mental Block
Quantum Avatar Empowering Belief
Anda telah membuat well-formed outcome dengan baik dan mewujudkannya dengan tindakan nyata dalam kehidupan. Anda pun juga telah menyadari diri Anda dengan kelebihan-kelebihan Anda dan mengembangkannya terus menerus. Satu hal yang dapat mendukung kelancaran tindakan Anda mencapai outcome adalah keyakinan (belief).
Kamis, 09 Agustus 2012
Kita Hanya Perlu Memulai
Mimpi Yang Tak Tergapai
Rabu, 01 Agustus 2012
Selasa, 26 Juni 2012
SADARLAH BAHWA ALLAH-LAH YANG MENGATUR SEGALA SESUATU DALAM SETIAP DETAIL NYA
Kamis, 31 Mei 2012
Tips Mengelola Waktu Secara Baik
Kadang-kadang kita merasa waktu 24 jam dalam sehari masih terlalu pendek ketika kita dihadapkan dengan tumpukan tugas-tugas. Padahal waktu yang kita gunakan masih dapat kita efektif dan efisienkan sehingga kita dapat memiliki waktu untuk melakukan pekerjaan yang lain. -bingung perbedaannya? arahkan kursor ke kata Efektif dan Efisien-
Berikut ini langkah-langkahnya
- Mulailah Merapihkan dari yang Terkecil
jika kamu banyak menghabiskan waktu di depan komputer, cobalah mulai mengatur folder-folder di dalam komputermu, sehingga memudahkanmu mencarinya ketika dibutuhkan
- Pisahkan Pekerjaan Kantor dari yang Lain
usahakan dapat memiliki sebuah meja (atau filing cabinet) untuk menyimpan semua pekerjaan kantor agar tidak bercampur dengan dokumen lain
- Gunakan Manajemen Waktu
jika kamu sering menggunakan komputer, gunakan aplikasi reminder atau kamu juga dapat menggunakan notes kecil atau post-it note untuk membuat daftar pekerjaan yang harus diselesaikan
- Susun Prioritas Pekerjaan
atur prioritas pekerjaan dari yang paling penting dan membutuhkan waktu paling sedikit
- Atur Deadlines
buat deadlines untuk setiap pekerjaan, sehingga memiliki target untuk menyelesaikan pekerjaan
- Buat Tujuan
membuat tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam pengaturan waktu. tujuan harus spesifik dan dapat diukur
- Rencanakan Sebelumnya
buat rencana sebelum mengerjakan sebuah pekerjaan, sehingga lebih terstruktur dan dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat
- Lakukan Delegasi
tidak ada yang salah dengan membawa bantuan dari luar, kita tidak dapat mengerjakan semuanya sendiri. delegasikan pekerjaan yang menurutmu kurang begitu perlu perhatianmu sehingga kamu dapat lebih fokus dalam pengerjaan yang lainnya
- Berani Katakan "TIDAK"
katakan "TIDAK" pada hal-hal yang dapat menghambat pekerjaanmu, mulai dari TV sampai situs social-networking yang dapat menyita waktumu
- Kapan Waktu Kerja Terbaikmu?
pelajari kapan waktu kerja terbaikmu, setiap orang memiliki waktu kerja terbaik yang berbeda-beda
- Ambil Beberapa Waktu Jeda
ambil beberapa kali waktu istirahat, tujuannya agar tubuh tidak jenuh dan dapat kembali mengerjakan dalam keadaan segar
Semoga dengan adanya coretan ini, baik penulis maupun pembaca dapat lebih baik dalam mengelola waktu. Coretan ini terinspirasi dari artikel How to Find Time for Everything
Cara Mengatasi Kemalasan Dalam Hidup
Jika Anda merasa malas menjalani aktivitas dalam hidup, maka solusi menghindari menghilangkan rasa malas tersebut harus Anda pelajari. Sifat malas akan berakibat buruk bagi kehidupan Anda yang tentunya itu tidak Anda harapkan.

Cara mengatasi kemalasan dalam hidup
Mereka sibuk dan mereka tetap sibuk karena itu salah satu cara untuk menghindari sesuatu yang tidak ingin mereka hadapi. Ada orang sibuk nonton TV, sibuk memancing, bermain golf, sibuk belanja ke Mall, namun didalam hati mereka ingin menghindari sesuatu hal yang tidak ingin mereka hadapi. Ini adalah bentuk kemalasan yang paling umum.
Malas dengan jalan tetap sibuk. Ada juga orang yang sibuk bekerja keras sehingga tidak perduli dengan istri dan anaknya. Dan ada juga orang yang terlalu sibuk mengurusi kekayaan mereka dan tidak perduli dengan kesehatan mereka. Dan ada orang yang terlalu sibuk mengurusi kesehatan dan tidak perduli lagi terhadap pekerjaan.
Yang menjadi ukuran malas adalah apa yang dianggap penting jauh di dalam lubuk hati mereka, tetapi mereka hindari.
Kata Robert Kiyosaki, “Obat untuk kemalasan adalah sedikit ketamakan”. Seringkali kita mendengar dikatakan bahwa “orang tamak adalah orang yang jahat”. Namun dalam diri kita semua adalah nafsu/hasrat untuk memiliki barang-barang baru atau bagus atau hal-hal yang menyenangkan. Jadi agar hasrat itu tetap terkendali, orang tua kita kerap kali menemukan cara-cara untuk menekan hasrat itu dengan cara menciptakan rasa bersalah.
Jadi, setiap kali anda mendapati diri anda menghindari sesuatu yang anda tahu seharusnya anda lakukan, maka satu-satunya hal yang anda tanyakan pada diri anda sendiri adalah “apa untungnya untuk saya?” Bersikaplah sedikit tamak. Itulah obat yang terbaik untuk kemalasan. Akan tetapi, terlalu tamak, seperti apapun lainnya yang berlebihan, tidaklah baik.
Menurut saya pribadi, bagaimana menghilangkan rasa malas kita harus mempunyai alasan yang sangat kuat. Dan alasan yang sangat kuat adalah menghindari sengsara dan mencari nikmat.
Bila kita sedang malas, bayangkan, dengarkan dan rasakan penderitaan yang amat sangat dengan detail dan emosionil (tulis minimal 10 kerugian) bila kita masih bermalas-malasan atau tidak melakukan hal-hal yang penting, dan bayangkan, dengarkan dan rasakan kenikmatan yang amat sangat secara detail dan emosionil (tulis minimal 10 kenikmatan) bila kita sudah mulai rajin dan melakukan hal-hal yang penting.
Akhir kata, semoga artikel ini memotivasi Anda untuk melawan rasa malas dan merasakan dampak positif dari sifat rajin!
Selasa, 06 Maret 2012
"God is Only 20%"
Senin, 20 Februari 2012
Minggu, 01 Januari 2012
Akhlak dan Ekonomi
Dalam presentasinya, peneliti junior Bank Indonesia bapak Ali Sakti, M.Ec menjelaskan bahwa, akar dari semua masalah ekonomi kita adalah disebabkan oleh dua faktor besar yaitu kesalahan manusia dan kesalahan sistem. Kesalahan manusia disebabkan oleh kebobrokan akhlak (moral hazard) dimana norma-norma sosial yang terkandung di dalam agama tidak menjadi panduan dalam berperilaku. Contoh nya adalah pengguna NARKOBA di Indonesia diperkirakan mencapai 2-3 juta orang. Jika diasumsikan pengguna NARKOBA tersebut menghabiskan Rp 500 ribu setiap pekan, atau Rp 2 juta per bulan, maka volume transaksi NARKOBA bisa mencapai Rp 6 triliun perbulan. Dalam setahun bisa mencapai Rp 72 triliun. Angka tersebut sama dengan belanja Indonesia untuk menanggulangi krisis global. Hal yang serupa juga terjadi pada transaksi pelacuran. UNDP mengestimasikan tahun 2003 di Indonesia terdapat 190 ribu hingga 270 ribu pekerja seksual komersial yang tiada lain mereka adalah para pelacur dengan 7 hingga 10 juta pelanggan. Artinya setiap pelacur rata-rata melayani 37 pelanggan (rasio maksimum). Jika diasumsikan akhir tahun 2008 tumbuh 20% atau sekitar 324 ribu, dan jika rasio pelacur dan pelanggannya masih sama yaitu 1 banding 37, maka diperkirakan pelanggan pelacuran mencapai 12 juta pelanggan. Dan jika diasumsikan, setiap pelanggan mengeluarkan Rp 1 jt perbulan, maka transaksi pelacuran per tahun mencapai Rp 144 triliun.
Dari kedua hal di atas bisa kita perkirakan biaya untuk transaksi amoral di atas setara dengan 46 jembatan Suramadu dan 3,6 kali belanja Indonesia untuk orang miskin per tahun. Lalu bagaimana dengan judi atau korupsi? Oleh sebab itu pengentasan masalah ekonomi bangsa, harus melalui dua pendekatan. Pendekatan yang pertama adalah perbaikan akhlak di seluruh lapisan masyarakat, dan pendekatan yang kedua adalah perbaikan sistem dengan sistem Islam.
Masalah Ekonomi Kontemporer
Lebih dari satu abad sistem ekonomi konvensional melayani kepentingan manusia dalam memenuhi kebutuhan dan kepuasan mereka. Kemajuan berupa kelengkapan infrastruktur, akses informasi canggih, serta teknologi yang semakin memudahkan pekerjaan manusia, di klaim menjadi kesuksesan ekonomi kapitalis. Kepuasan individu menjadi pokok perhatian dalam kehidupan berekonomi. Akibatnya variabel-variabel keberhasilan dalam ekonomi hanya diukur pada keberhasilan materi saja. Tidak heran jika kemudian perilaku ekonomi dari individu-individunya juga sangat konsisten dengan paradigma kekuatan pasar (kapitalisme), kepuasan individual (individualisme), dan materialistik (materialisme).[1]
Namun pada prakteknya teori ekonomi kapitalis tidak sesuai antara tujuan dan kejadian nyata di lapangan. Kemakmuran yang diharapkan malah menciptakan jurang pemisah yang lebar antara pemilik modal (orang kaya) dengan orang miskin. Kekacauan ekonomi seringkali terjadi, kerakusan yang terjadi di antara sebagian individu masyarakat dan semangat kepedulian akan sesama, tergerus habis oleh hawa nafsu pribadi. Katanya peradaban manusia kini ada pada masa keemasannya, namun kenyataannya data-data sosial manusia semakin menunjukkan peradaban ini semakin tidak beradab. Lihat saja angka kemiskinan, kekurangan gizi , kelaparan, konflik sosial, kriminalitas, dan pengangguran yang semakin tinggi padahal barang-barang mewah selalu habis di pasar, gedung-gedung mewah semakin menjamur dan menjulang tinggi, angka konsumsi semakin besar. Busung lapar yang terjadi bisa menjadi salah satu buktinya. Sebagaimana disitir Menkes Siti Fadilah Supari, ada sekitar 1,67 juta anak balita di Indonesia yang menderita gizi buruk.[2] Hal tersebut terjadi bukan karena kurangnya pangan di negeri ini tetapi karena permasalahan distribusi yang tidak merata. Itu semua dibuktikan pada saat yang sama banyak orang yang obesitas atau kelebihan kalori ditambah lagi dengan pola konsumeristik masyarakat yang walaupun harga barang melambung tinggi namun tidak mengurangi daya beli mereka. Berkenaan dengan teori distribusi, ekonomi kapitalis memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada individu untuk memperoleh kekayaan sebanyak-banyaknya tanpa melihat apakah itu semua terdistribusi secara merata atau tidak.. ternyata akar permasalahannya adalah moral atau keimanan pada tuhan. Kekacauan sosial sepatutnya dientaskan bukan diawali oleh subsidi-subsidi yang bersifat sementara. Namun harus dimulai dengan menyandarkan hakikat hidup dan kehidupan manusia, urgensi mengetahui kekuasaan dan kehendak Tuhan atas manusia.[3]
Sistem ekonomi kapitalis jelas tidak bisa menjadi solusi, mekanisme pasar yang hanya dijadikan satu-satunya sistem dalam distribusi pada ekonomi kapitalis, telah memunculkan sekelompok orang kaya dan semakin membuka ruang kesenjangan yang teramat besar kepada orang fakir miskin.
Kemiskinan yang terjadi juga dapat menimbulkan dampak-dampak sosial lainnya seperti kekurangan gizi (kesehatan), Kebodohan (pendidikan), ketidakberdayaan (sosial), kelangkaan akses (politik), ketertinggalan (budaya).[4] Kelima hal tersebut dapat digambarkan dalam gambar siklus berikut ini:
Solusi Masalah Sosial dan Ekonomi
Kehidupan sosial dengan segala pernak pernik permasalahannya tidak dapat dipecahkan kecuali dengan dana, misalnya masalah kefakiran, hanya dapat diselesaikan dengan mencukupkan kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Masalah ilmu, banyak orang yang tidak bisa sekolah atau melanjutkan studi karena tidak mempunyai dana yang cukup. Masalah kelemahan, banyak orang yang mempunyai cacat fisik, atau kecelakaan yang tidak berdaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemudian ada orang yang butuh dana untuk menikah, namun karena tidak punya biaya terpaksa telat menikah. Masalah tempat tinggal, banyak orang yang tidak mampu membeli rumah untuk tempat tinggal. Bahkan dakwah Islam pun tidak akan bisa menang di tengah arus hedonisme dan sekularisme saat ini, jika tidak ditopang oleh dana yang besar. Berarti kecukupan dana memegang peranan yang sangat penting dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi bangsa ini.
Allah SWT telah mensyariatkan kepada kita beberapa sistem yang merupakan mekanisme distribusi, agar aliran dana bisa tersalurkan secara adil dan merata. Sistem-sistemnya adalah sebagai berikut:
1. Sistem Zakat
2. Sistem sedekah
3. Sistem wakaf
4. Sistem nafkah
5. Sistem seperlima dari harta rampasan perang
6. Sistem harta terpendam
7. Jaminan umum dari baitul mal bagi setiap orang dalam wilayah Islam.
Dengan keseluruhan mekanisme di atas maka Islam telah menyiapkan mekanisme yang menjamin kesejahteraan masyarakat lewat distribusi yang adil.
Catatan Kaki:
[1] Sakti, Ali, Analisis Teoris Ekonomi Islam: Jawaban Atas Kekacauan Ekonomi Kontemporer, (Jakarta: Pradigma & Aqsa Publishing,, 2007), h.Xii
[2] http://hizbut-tahrir.or.id/2007/07/02/metode-distribusi-kekayaan-menurut-islam/
[3] Sakti, Ali, Analisis Teoris Ekonomi Islam: Jawaban Atas Kekacauan Ekonomi Kontemporer, (Jakarta: Pradigma & Aqsa Publishing,, 2007), h.Xii
[4] Platform kebijakan pembangunan PK-Sejahtera
Selasa, 06 Desember 2011
Kisah Rajawali Yang Salah Paham : Bila Motivasi Saja Tidak Cukup
Alkisah ada seorang petani yang menemukan telur burung rajawali di sawah dan dibawanya pulang, kemudian diletakkannya telur tersebut di tempat telur-telur ayam miliknya sehingga dierami pula oleh sang induk ayam. Maka ketika telur-telur ayam tersebut menetas, ikut pula telur rajawali ini menetas. Meskipun badan dan sayap-sayapnya berbeda dengan kakak-kakaknya, sang induk ayam tidak pernah membedakan ‘anak bungsu’ ini dari kakak-kakaknya. Hari demi hari tumbuh besar bersama kakak-kakaknya, semakin bedalah postur tubuh dan sayap rajawali ini dengan kakak-kakaknya, tetapi dia tetap merasa bahwa dia bagian dari keluarga yang sama yaitu keluarga ayam.
Suatu hari dia melihat burung yang gagah perkasa terbang di angkasa – burung rajawali, dia bertanya ke kakak-kakaknya, makhluk apakah gerangan yang ada di atas sana ? sang kakak menjawab bahwa itulah makhluk langit – burung rajawali – yang berbeda dengan dengan kita-kita makhluk bumi yaitu keluarga ayam.
Hari demi hari hidup bersama kakak-kakaknya keluarga ayam, semakin jauh perbedaan adik bungsu ini, sampai suatu hari kakak-kakaknya sadar bahwa adiknya memang sangat berbeda. Diamatinya benar-benar sang adik ini, kemudian dilihatnya pula burung yang gagah perkasa di angkasa. Maka kakak-kakanya sadar bahwa sang adik tidak lain adalah burung rajawali seperti yang biasa mereka lihat gagah perkasa di langit sana.
Diyakinkannyalah sang adik bungsu bahwa dia sesungguhnya adalah rajawali makhluk langit yang gagah perkasa dan disuruhnya pula sang adik untuk terbang ke angkasa, tetapi karena sang adik seumur-umur hidup bersama kakaknya bangsa ayam – dia tidak bisa terbang. Bahkan meskipun memiliki postur tubuh dan sayap yang berbeda, sang adik juga tidak merasa bahwa dirinya adalah rajawali – dia merasa bahwa dirinya adalah ayam.
Dengan segala upaya kakak-kakaknya meyakinkan si bungsu bahwa dirinya adalah rajawali yang seharusnya bebas terbang dengan perkasa mengarungi angkasa, sang adik tetap tidak bisa terbang – dia tetap merasa bahwa dirinya ayam dan dia puas untuk hidup bersama keluarga ayam yang dikenalnya sejak dia lahir.
Tidak menyerah untuk membantu sang adik menemukan takdirnya sebagai burung rajawali, suatu hari kakak-kakaknya mengajak si bungsu ini untuk berjalan mendaki gunung yang tinggi sampai menemukan tebing yang curam. Dibujuknya pula sang adik untuk melongokkan kepalanya dan melihat keindahan lembah dibawah sana, dan dalam posisi inilah sang adik didorong ke arah tebing yang sangat curam tersebut.
Apa yang terjadi ? Ternyata sang adik dengan gerak refleksnya bisa langsung terbang tinggi sebagai burung rajawali yang gagah perkasa, selama ini dia hanya salah paham mengira bahwa dirinya adalah ayam !.
Banyak diantara kita yang memiliki potensi untuk berkarya dalam berbagai bidang, namun karena kita salah paham terhadap potensi yang kita miliki sendiri, kita juga salah memilih lingkungan bergaul atau bekerja – kita tidak bisa secara optimal mengaktualisasikan potensi tersebut.
Dalam bidang usaha misalnya, tidak terhitung buku kita baca, berbagai pelatihan motivasi-pun sudah kita ikuti; tetapi kita tidak kunjung bisa ‘terbang’ dan tetap puas untuk berada dalam keluarga pegawai. Sampai-sampai kita-pun seperti rajawali yang salah paham, mengira bahwa ‘makhluk langit’ – para pengusaha- adalah bukan kita.
Kita mengira bahwa yang bisa mengolah segala sumber kekayaan alam yang melimpah negeri ini adalah orang lain, bukan kita. Yang punya tambang emas, tambang minyak, nikel, hutan industri, mengambil ikan di laut yang luas, memproduksi daging yang cukup, susu yang cukup dlsb.dlsb. adalah bangsa lain yang bukan bangsa kita.
Maka bila motivasi saja tidak cukup untuk membuat kita menjadi rajawali yang bisa terbang tinggi, bisa jadi satu-satunya jalan adalah memang harus diciptakan situasi yang memaksa kita untuk mengeluarkan seluruh potensi yang sesungguhnya ada pada diri kita ini. Siapa tahu sebagian dari diri kita sejatinya memang ‘rajawali’ yang selama ini hanya salah paham dan mengira diri kita sendiri ‘ayam’ ? Wa Allahu A’lam.
Senin, 24 Oktober 2011
Fiqih Mitra Kerja Perspektif Al-Qur'an
| |
| Mitra Kerja |
Selanjutnya, para semut pekerja membersihkan sisa-sisa daun pembuatan jamur dari bilik pertanian mereka hingga bersih dengan membuang kotoran tersebut di tempat yang cukup jauh. Mereka melakukan tugas ini tanpa mengenal istirahat dan keluh-kesah, Di lain sisi, ada kelompok semut lain yang bertugas menjaga pertahanan sarang (semut defensi), mereka adalah prajurit yang berani dan gagah perkasa (mereka lebih berat 300 kali dari spesies lain), mereka tidak akan melepaskan gigitannya, meski bagian tubuhnya telah tercabit-cabit demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka. [[1]]
Hemat penulis, dari paparan singkat kehidupan semut petani di atas, ada beberapa asas mendasar dari terciptanya mitra usaha yang dinamis dan harmonis:
a. Bekerja dengan ikhlas tanpa mempermasalahkan posisi atau jabatan
Tidak ada dari komunitas semut yang mempermasalahkan posisi dan tugasnya, setiap dari mereka bekerja dengan ikhlas demi kelangsungan hidup mereka.
Di lain sisi, setiap struktur kerja manusia pasti melibatkan komponen-komponen masyarakat secara langsung dalam pekerjaan tersebut. Dan pastinya, kinerja setiap anggota ditentukan oleh jabatan yang tengah dipegangnya, dan tentunya pula, setiap pekerjaan tidak akan mendatangkan hasil maksimal jika setiap dari mereka tidak bertanggung jawab penuh terhadap tugas masing-masing.
Mereka layaknya berada di sebuah kapal yang sedang berlayar di lautan lepas. Di sana ada kapten, awak-awak kapal, dan penumpang. Jika salah seorang dari mereka melalaikan tugas, atau ada yang secara sengaja atau tidak sengaja membocorkan kapal, maka semua akan ditelan bersih oleh ombak, dan ikan-ikan pemangsa. Olehnya itu, keikhlasan bekerja tanpa melihat jabatan yang dijalankan merupakan kunci utama kesuksesan sebuah mitra kerja.
Rasa tidak puas dengan jabatan dapat menjerumuskan seseorang ke jurang kedengkian, puji diri, dan ego. Jika sifat-sifat seperti ini telah menjalar ke dalam sendi-sendi kehidupan, maka pekerjaan yang bisa rampung dalam jangka waktu sehari menjadi dua hari, seminggu menjadi sebulan, dan sebulan menjadi berbulan-bulan, karena pada saat itu setiap dari mereka hanya mementingkan kemaslahatan pribadi, enggan mengulurkan tangan jika tidak ada keuntungan materi atau popularitas yang bisa diharapkan. Bukan hanya itu, rasa ingin menang, tenteram dan bahagia di atas penderitaan orang lain seringkali datang menari-nari di benak mereka, sehingga yang terjadi tidak lain kecuali perpecahan dan pertikaian.
Ini telah ditekankan Allah SWT pada firman-Nya berikut ini:
“Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kehilangan kekuatan.” (QS. al-Anfal [8]: 46)
Bediuzzaman Said Nursi dengan mengedepankan ayat di atas, beliau berkata:
“membiarkan hawa nafsu bersikap ego, mencari pangkat dan kedudukan agar menjadi perhatian manusia, serta senang kepada sanjungan orang karena motivasi ingin terkenal dan populer, semua ini adalah penyakit kejiwaan yang kronis, dan pintu terhadap syirik yang samar, yaitu riya dan ujub yang menghancurkan keikhlasan.” [[2]]
Keikhlasan beramal seperti ini hanya dapat dicapai oleh mereka yang mensyukuri apa yang ada di genggaman, dan tidak melihat apa yang sedang beterbangan di khayalan berupa pangkat dan jabatan.
Rasul Saw telah memberikan pujian kepada mereka dalam sabdanya:
“Ridhailah apa yang Allah SWT telah berikan kepadamu, maka Anda akan menjadi orang yang paling kaya.” [[3]]
b. Berusaha menciptakan pribadi kolektif dan rasa ingin berbagi dengan sesama
Pelbagai masalah kehidupan tidak dapat dipecahkan oleh kejeniusan seseorang. Ini terlihat dalam kehidupan masyarakat setiap hari.
Rumah yang berdiri kokoh butuh kepada tenaga-tenaga terampil. Di antara mereka ada yang merancang fondasi rumah dan pagar, ada pula yang membuat batu-bata, semen, dan besi. Mustahil ada satu orang yang mempelajari semua keterampilan tersebut demi membangun dengan sendirinya sebuah rumah. Akan tetapi, kerjasama memberikan peluang kepada seseorang untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Kiaskanlah semua aspek-aspek kehidupan pada contoh sederhana ini.
Olehnya itu, Al-Qur’an sejak awal menyeru kita untuk saling tolong menolong. Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maidah [5]: 2)
Meskipun dengan singkat ayat ini menyerukan kerjasama, tetapi ia menyuguhkan lautan makna.
Syekh Mutawalli as-Sya’rawi berkata: “Kata (at-Taawun), yang artinya bekerja sama, menandakan bahwa ada pihak penolong dan pihak yang tertolong. Akan tetapi, si penolong tidak selamanya menolong, namun di lain waktu ia bisa saja mengulurkan tangan minta bantuan, dan yang tertolong di lain waktu ia bisa menjadi penolong. Itulah gerak kehidupan dan formula mujarab untuk memakmurkan bumi.” [[4]]
di lain pihak, Imam Fakhruddin ar-Razi berkata: “kata (al-Birri) yang berarti kebaikan meliputi pelbagai objek kebaikan, itu mengindikasikan bahwa pintu kebaikan terbuka lebar bagi mereka yang ingin datang mengetuknya.”[[5]]
Dan Syekh bin Asyur tidak ketinggalan menorehkan salah satu makna yang dibiaskan ayat di atas, beliau berkata: “Di antara faedah kerjasama adalah menjalankan pekerjaan dengan mudah, mendatangkan kemaslahatan bersama, memperlihatkan persatuan dan solidaritas, sehingga ia menjadi akhlaq umat secara menyeluruh.” [[6]]
Hemat penulis, penafsiran yang beraneka ragam tersebut menyuarakan pentingnya kerjasama dalam sebuah mitra usaha yang saling menguntungkan, tidak saling merugikan, seperti parasit yang mengambil cadangan makanan pepohonan lain. Kerjasama seperti ini menciptakan kepribadian kolektif, yaitu: keuntungan dinikmati bersama, kerugian dipikul bersama, dan setiap dari mereka punya kesempatan yang sama dalam memperoleh pahala Allah SWT.
Said Nursi telah memaparkan hal tersebut dengan begitu jelasnya di bawah ini:
“Sesungguhnya zaman ini terhadap ahli hakikat adalah zaman kebersamaan, dan bukanlah zaman individualisme, zaman menampakkan ego dan kecongkakan. Karena hanya ruh kepribadian kolektif (Syakhsiyah Maknawiyah) dari jamaah yang akan kekal bertahan menghadapi pelbagai banyak tantangan dan cobaan. Maka demi menggapai kolam besar, seyogianya seseorang itu menceburkan diri, ego, dan kecongkakannya yang seperti butir salju ke kolam tersebut hingga mencair, karena jika tidak demikian maka pasti mencair sendiri butir salju tersebut, dan berlalu begitu saja, dan kesempatan pun hilang untuk mengambil manfaat dari kolam itu juga” [[7]]
c. Senasib dan saling tanggung-menanggung
Dalam komunitas semut, tidak pernah dijumpai seekor semut yang kelaparan dan kehausan, atau tidak punya tempat tinggal. Genangan air dikerumuni bersama, layaknya manusia yang sedang berkerumun menyaksikan akrobat, setetes air diisap berduaan, dan sebatang roti besar dipikul bersama. Itulah contoh kecil yang diinginkan seruan Al-Qur’an saat menyuarakan kerjasama.
Namun, kenapa di lingkungan sekitar kita masih terlihat juga orang-orang yang tergeletak di pinggir jalan, tidur di bawah kolong jembatan, bahkan di atas pohon, aksi ngamen dan perampokan di kota-kota besar dengan pelbagai cara. Bukankah ini menandakan bahwa seruan Al-Qur’an telah diabaikan dan dipandang sebelah mata?
Bagaimanapun jawaban yang dibeberkan, tetap saja ada ketimpangan sosial dalam masyarakat seperti ini.
Said Nursi telah menggarisbawahi dua kalimat yang memicu kesenjangan sosial seperti ini, Beliau berkata:
“Di sana ada dua kalimat yang memicu segala kekacauan, kerusuhan dan dekadensi moral lain dalam kehidupan sosial manusia. Kalimat pertama adalah: “Jika saya kenyang, maka tidak ada dosa bagiku atas kematian seseorang akibat kelaparan.” Kalimat kedua: “Anda bekerja supaya saya bisa menikmati hasil jerih payahmu, dan Anda capek peras keringat supaya saya bisa beristirahat dengan tenang melahap hasilnya.” Kemudian, yang menyirami dan melestarikan kedua kalimat ini adalah praktek riba dan pengelolaan zakat yang tidak terorganisir.” [[8]]
Kenapa kemanusiaan yang begitu mulia terpuruk begitu jauh, bukankah mereka bagian dari kehidupan, dan punya hak dari mitra usaha yang sedang digalakkan oleh pihak-pihak tertentu dalam skala lokal dan nasional? Jangan pikir bahwa mitra usaha itu hanya mementingkan orang-orang yang terlibat dalam sebuah kesepakatan kerja. Akan tetapi, mitra usaha Islam bukan hanya berperan menyejahterakan mereka yang berada dalam lingkaran kerja, tetapi juga berupaya meringankan beban orang-orang yang tidak mampu. Bukankah sepatutnya kita merasa malu kepada komunitas semut yang tidak pernah membiarkan satu pun dari mereka hidup sendiri berjuang menghadapi rasa lapar dan dahaga? Patutkah kita seperti ini?
Di penghujung tulisan ini, saya mengajak pemerhati tema-tema keislaman untuk menyuarakan seruan Islam di bawah ini:
“Anda boleh saja merancang struktur mitra usaha sesuai dengan keinginan Anda, tetapi kedepankan kerjasama, utamakan kesejahteraan bersama, gapai kemakmuran yang merata dan pembagian properti yang adil, jauhkan kemaslahatan pribadi, nampakkan di permukaan kemaslahatan bersama, dan lihat orang-orang di sekitar Anda yang butuh uluran tangan guna meringankan penderitaan mereka. Di posisi manapun Anda, baik selaku penanam saham, pemilik aset, konsultan, karyawan perusahaan, ataupun buruh kasar, Anda tetap wajib memperhatikan aturan baku ini. Selamat menjalin mitra kerja yang harmonis dan dinamis!”
[[1]] Lihat:http://dikdrum.blogspot.com/2009/06/keunikan-semut-pemotong-daun.html
http://indonesia.soup.io/post/14597463/Tugas-2-Teori-Ankoloni-Semut-Sistem-Pakar
[[2]] Bediuzzaman Said Nursi, al-Lama’ât, diterjemahkan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Dâr Sôzler, Cairo-Egypt, cet. 4, 2004 m, hlm. 249
[[3]] Imam al-Ajalûni berkata: “Hadits ini diriwayatkan Imam Ahmad, at-Tirmidzi dari Abi Hurairah dengan sanad yang lemah.” [lihat: Syekh Ismâil Muhammad al-Ajalûni, , Kasyf al-Khafa' wa Muzîl al-Iltibâs amma Sytahara min al-Ahâdîts ala Alsinati an-Nâs, Maktabah al-Qudsi, cet. 1451 h. vol. 1, hlm. 43
[[4]] Syekh Sya’rawi, Tafsir Syekh Sya’rawi, Akhbar al-Yaum, vol. 5, hlm. 2907
[[5]] Lihat: Imam Fakhruddin ar-Razi, Mafâtihul Gaib, Dar al-fikr, Beirut, cet. 1, 1401 h/1981 m, vol. 5, hlm. 40
[[6]] Syekh Muhammad Thahir bin Asyur, at-Tahrir wa at-Tanwir, Dar Sahnun, Tunis, cet. 1, 1997 m, vol. 6, hlm. 88
[[7]] Said Nursi, Mursyid Ahli al-Qur’an ila Haqâiq al-îmân, dialihbahasakan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Zosler, Kairo, cet. 3, 2001, hlm. 101-102
[[8]] Saîd Nûrsî, al-Maktûbât, vol. II, dialihbahasakan oleh Ihsân Qâsim as-Shâlihî, Dar Sôzler, Kairo, cet. 2, 1995, hlm. 355
Minggu, 10 April 2011
Pengalaman Bisnis, Sukses Abdurrahman bin Auf
sungguh dalam rentang 14 abad Islam menaungi 2/3 belahan dunia, merahmati alam raya, peradaban Islam telah banyak melahirkan pribadi-pribadi yang mengguncang dunia. Salah satunya adalah sahabat Abdurrahman bin Auf melalui keteladanannya sebagai muslim sejati, termasuk dalam berbisnis yang dilakukannya pada abad 1 Hijriah. Beliau termasuk generasi sahabat yang masuk Islam sangat awal, menjadi orang kedelapan yang bersahadah 2 hari setelah Abu Bakar. Beliau termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Sungguh banyak teladan yang dapat direngkuh dari sepak terjang bisnis beliau. Salah satunya adalah pada aspek prinsip manajemen bisnis yang dipegang kuat dan diterapkan secara konsisten dan penuh komitmen. Beberapa prinsip beliau yang telah dikenal luas adalah bahwa beliau hanya berbisnis barang yang halal dan menjauhkan diri dari barang yang haram bahkan yang subhat sekalipun; keuntungan bisnis yang didapat dinikmati dengan menunaikan hak keluarga dan hak Allah, untuk perjuangan di jalan Allah; dan menjadikan harta perniagaan sebagai sesuatu yang dikendalikannya, bukan yang mengendalikannya.
Prinsip-prinsip manajemen bisnis itu pun dibuktikannya.Diantaranya adalah :
(1) Berbisnis barang yang halal dan menjauhkan diri dari barang yang haram bahkan yang subhat sekalipun.
Keseluruhan harta Abdurahman bin Auf adalah harta yang halal, sehingga sahabat lainnya, Utsman bin Affan ra. yang juga pengusaha sukses dan sudah sangat kaya pun bersedia menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 Dinar bagi setiap veteran perang Badar. Ustman bin Affan berkata, “ Harta Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah”.
(2) Keuntungan bisnis yang didapat dinikmati dengan menunaikan hak keluarga dan hak Allah, perjuangan di jalan Allah.
Ketika Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit karena medannya jauh, ditambah situasi Madinah yang sedang musim panas. Abdurrahman bin Auf memeloporinya dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas (1 uqiyah setara dengan 50 dinar) sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW “ Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya”. Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada Abdurrahman bin Auf, “Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu ?”, “ Ya!” Jawab Abdurrahman, “Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan”. “Berapa ?” Tanya Rasulullah. “ Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah.” Jawabnya. Subhanallahu.
(3) Menjadikan harta perniagaan sebagai sesuatu yang dikendalikannya, bukan yang mengendalikannya.
Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan antara lain 40.000 Dirham, 40.000 Dinar, 200 uqiyah emas, 500 kuda, dan 1.500 unta.
Banyak dan sering sekali, beliau menggunakan hartanya untuk diinfaqkan. Sampai- sampai ada penduduk Madinah yang berkata “ Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka”.
Dengan begitu banyak harta yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika meninggal pada usia 72 tahun beliau masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1.000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3.000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Artinya, kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2.560.000 Dinar. Subhanallahu… Allahu akbar!!! Sok atuh silakan dikonversi ke rupiah. Daripada pusing, nih saya pinjamkan hitungan mbah kalkulator. Ternyata jumlah itu setara dengan 3.8 triliun rupiah. Bayangkan sodara, nilai yang begitu fantastis diraih di masa yang sederhana, belum ada internet dengan bisnis online-nya. Weleh-weleh, gak kebayang dah.
Islam sebagai agama yang sempurna dan hadir dengan sistemnya yang sempurna telah melahirkan pebisnis-pebisnis yang muantap layaknya Abdurahman bin Auf. Inilah salah satu sosok muslim terbaik yang bisa kita rujuk. Agar kita bisa mendekati, menyamai dan bahkan mengungguli beliau agar bisnis yang berjalan mulus, dakwah yang kuenceng dan kedermawanan yang juga muantap. So, gak usah nunggu esok. Kita mulai dari sekarang!
Alhamdulillah…Luar Biasa…Allahu Akbar!!!
Muhammad Karebet Widjajakusuma
(D'Rise#5)
Sabtu, 02 April 2011
10 STEP TO ENTERPRENEURSHIP
Mulailah dengan sebuah mimpi. Semua bermula dari sebuah mimpi dan keyakinan akan produk yang akan kita tawarkan.
A dream is where it all started:
Pemimpilah yang selalu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, cara pelayanan, jasa, ataupun idea yang dapat dijual dengan sukses. Mereka tidak mengenal batas dan kerterikatan, tak mengenal kata 'tidak bisa' ataupun 'tidak mungkin'.
2. LOVE the products or services
Cintailah produk anda.
Kecintaan akan produk kita akan memberikan sebuah keyakinan kepada pelanggan kita dan membuat kerja keras terasa ringan. Membuat kita mampu melewati masa2 sulit. Setiap awal usaha selalu akan ada banyak halangan ataupun kesulitan yang bertubi tubi, kecintaan akan produk kita yang akan membuat kita bekerja keras dengan senang hati.
Enthusiastism and Persistence:
Antusiasme dan keuletan sebagai pertanda cinta dan keyakinan kita akan menjadi tulang punggung keberhasilan sebuah usaha yang baru.
3. Learn the BASICS of BUSINESS.
Pelajarilah fundamental business.
BEYOND THE *buy low, sell high, pay late, collect early*:
Tidak akan ada sukses tanpa sebuah pengetahuan dasar untuk business yang baik, belajar sambil bekerja, turut kerja dahulu selama 1-2 tahun untuk dapat mempelajari dasar2 usaha akan membantu kita untuk maju dengan lebih baik.Carilah -guru-
yang baik.
4. Willing to take CALCULATED RISKS.
Ambilah resiko.
The gain that u will be able to achieve is directly proportional to the risk taken:
Berani mengambil resiko yang diperhitungkan merupakan kunci awal dalam dunia wirausaha, karena hasil yang mungkin dicapai akan proporsional terhadap resiko yang diambil. Sebuah resiko yang diperhitungkan dengan baik2 akan lebih banyak memberikan kemungkinan berhasil. Dan inilah faktor penentu yang membedakan -entreprenneur- dengan -manager-. Entrepreneur lebih dibutuhkan pada tahap -awal- pengembangan perusahaan, dan -manager- dibutuhkan untuk mengatur perusahaan yang telah maju.
5. Seek advice, but follow your belief.
Carilah nasehat dari pakarnya, tapi ikuti kata-hati kita.
Consult Consultants, ask the experts, but follow your hearts.
Entrepreneur selalu mencari nasehat dari berbagai pihak tapi keputusan akhir selalu ada ditangannya dan dapat diputuskan dengan -indera ke enam- nya.
6. Salesmanship and Customer understanding.
Komunikasi yang baik dan kepiawaian menjual.
Pada fase awal sebuah usaha, kepiawaian menjual merupakan kunci-sukses. Dan kemampuan untuk memahami dan menguasai hubungan dengan pelanggan akan membantu mengembangakan usaha pada fase itu.
7. Work HARD, 7 days a week, 18 hours a day.
Kerja keras.
Ethos kerja keras sering dianggap sebagai mimpi kuno dan seharusnya diganti, tapi hard-work and smart-work tidaklah dapat dipisahkan lagi sekarang. Hampir semua successful start-up butuh workaholics. Entrepreneur sejati tidak pernah lepas dari kerjanya, pada saat tidurpun otaknya bekerja dan berpikir akan businessnya. Me-lamun-kan dan memimpikan
kerjanya.
8. Make friends as much as possible.
Bertemanlah sebanyak-banyaknya.
Pada harga dan kwalitas yang sama orang membeli dari temannya, pada harga yang sedikit lebih mahal, orang akan tetap membeli dari teman. Teman akan membantu mengembangkan usaha kita, memberi nasehat, membantu menolong pada masa sulit.
9. Deal with FAILURES.
Hadapi kegagalan
Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita ber wira usaha, selama kegagalan itu tidaklah -mematikan-. Setiap usaha selalu akan mempunyai resiko kegagalan dan bilamana sampai itu terjadi, bersiaplah dan hadapilah!
10. Just Do It, NOW!
Lakukanlah sekarang juga.
Bila Anda telah siap, lakukanlah sekarang juga.
Manager selalu melakukan : READY-AIM-SHOOT, tetapi entrepreneur sejati akan melakukan READY-SHOOT-AIM!.
Putuskan dan kerjakan sekarang, karena besok bukanlah milik kita.
Sabtu, 12 Maret 2011
Hiduplah Sebagai Jiwa Yang Ikhlas
yang diturunkan ke alam kehidupan raga sebagai manusia
yang bertugas mewujudkan kemuliaan dari jiwanya
untuk mengindahkan kehidupan sesamanya
bagi keindahan hidupnya di surga.
Dan jiwa yang mampu memimpin dirinya sendiri
untuk keluar dari kekhawatiran, ketidak-tegasan,
penundaan, dan kemalasan,
memiliki semua potensi untuk memindahkan gunung.
Karena sesungguhnya,
kekuatan setiap jiwa dijamin oleh Sang Pencipta.
Maka marilah kita ingat kembali
pesan yang disampaikan pada hari kelahiran kita ...
Hiduplah sebagai jiwa yang ikhlas.”
=====
Sahabat saya yang baik hatinya,
Tidak mungkin jiwa yang bertanya-tanya tentang haknya untuk hidup dalam kedamaian dan kesejahteraan, tidak diberikan petunjuk.
Petunjuk itu telah diturunkan dalam pemberitahuan yang isinya tak mungkin ditemukan dalam karangan manusia, dan sebagian lagi ditempelkan pada penciptaan di alam ini – agar kita bebas mengamatinya.
Tetapi, tidak sedikit orang yang membutuhkan penyelamatan, adalah justru orang-orang yang mempersulit bantuan bagi kebaikannya sendiri.
Ada orang yang sudah diberikan kecerdasan untuk mengerti nasehat baik, tetapi hatinya yang pekat dengan keluhan – membuatnya segera bertanya:
Tapi khan nggak mudah Pak?
Itu khan teori?
Khan melakukannya nggak semudah mengatakannya?
Apakah Bapak sudah membuktikan?
Kalau orang susah seperti saya apa bisa?
Bapak belum pernah miskin kaya' saya ya?
Dan yang memilukan hati, adalah orang yang hidupnya masih belum mudah dan sedang terpinggirkan, tetapi saat mendengar nasehat baik yang bisa digunakannya untuk memperbaiki kehidupan, dia menyeletuk:
Ah … biasa aja tuh …
………..
Padahal, …
jika mereka memperhatikan,
jika kita memperhatikan,
jika jiwa ini memperhatikan …
Ikhlas adalah seutuhnya menerima Tuhan dengan semua kebenaran-Nya.
Kebenaran Tuhan adalah untuk kemuliaan kita, dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan setelah kehidupan ini.
Maka, ….
Jiwa yang menerima Tuhan dengan seutuhnya sebagai pemimpin kehidupannya, akan dibenarkan kehidupannya dengan cara-cara yang indah.
Tetapi jiwa yang pelik dan ketil berhitung dalam keputusan yang tarik-ulur dalam menjadikan Tuhan sebagai pemimpin kehidupannya,
dan kadang-kadang mencoba perhitungan akal-akalan untuk menyiasati kewenangan Tuhan mengenai nasibnya,
akan tetap dibenarkan kehidupannya – tetapi dengan cara-cara yang tidak akan disukainya.
Sesungguhnya, …
Keikhlasan adalah gerbang keemasan yang memisahkan kehidupan yang bebannya harus kita pikul sendiri dan kehidupan yang bebannya dipukul bersama Tuhan.
Dengannya, inilah jawaban bagi dia yang bertanya,
Apakah ikhlas itu?
Ikhlas adalah seutuhnya menerima Tuhan dengan semua kebenaran-Nya.
Bagaimana caranya untuk ikhlas?
Terimalah Tuhan dengan seutuhnya, bersama semua kebenaran-Nya.
Tetapi mengapakah ikhlas itu sulit?
Karena engkau memilih mempertahankan kebiasaan dan kesenangan mu yang tak akan memperkuat dan memuliakanmu, daripada memilih pikiran, sikap, dan perilaku yang ditetapkan oleh Tuhan sebagai jalan lurus menuju kedamaian dan kesejahteraanmu.
Apakah jaminannya bahwa hidup saya akan baik, jika saya ikhlas?
Tidak ada jaminan untuk keikhlasan, karena jaminan itu tidak diperlukan.
Yang ada adalah bukti, bahwa kurangnya keikhlasanmu telah melemahkan hidupmu.
Apakah kegelisahan hatimu tidak cukup menjadi bukti bahwa tidak ada kedamaian di luar keikhlasan?
………..
Dan sesungguhnya kita diberikan kemampuan berpikir,
untuk memilih yang memuliakan kita tanpa harus diperingatkan dengan rasa malu,
untuk mendahulukan yang harus dilakukan,
untuk meninggalkan yang tidak memuliakan,
untuk melakukan yang mudah saat ia masih mudah,
untuk memulai karena harus selesai,
dan untuk mencintai kebaikan karena hanya kebaikan yang membaikkan.
Janganlah kita akhirnya melakukan yang sudah lama dilakukan oleh mereka yang ikhlas.
………..
Sahabat saya yang baik hatinya,
yang kedamaian hatinya sangat diperhatikan oleh Tuhan
Marilah kita ikhlaskan diri untuk menjadi pribadi yang dekat dan taat kepada Tuhan; dan hidup dengan pikiran, sikap, dan perilaku yang menjadikan kita bermanfaat bagi kebahagiaan sesama.
Marilah kita memasuki gerbang keikhlasan jiwa,
yang menghubungkan kehidupan kita hari ini dengan padang rumput hijau di halaman taman pemuliaan hidup, yang namanya kebahagiaan itu.
Marilah kita mengindahkan wajah jiwa kita,
untuk bersama duduk-duduk,
atau berbaring di atas permadani rumput hijau,
yang sejuk dan lembut,
yang harum dengan aroma melati dan mawar,
yang akarnya dikayakan oleh kelembaban air suci,
dari aliran parit-parit kecil yang bening dan sesetia cermin permukaannya,
yang gemerciknya mengalunkan kidung kedamaian,
yang memantulkan keindahan biru dari langit yang lembut,
yang menggantung sebagai atap yang melindungi,
dengan kedalaman yang tak tertembus pandangan,
yang diterangi oleh sinar cemerlang yang tak menyilaukan,
yang menenggelamkan jiwa dalam alun mimpi yang setengah menidurkan,
dan yang menegakkan kesadaran dalam semedi yang agung.
Maha Indah Tuhan dalam kelembutan pemeliharaan-Nya.
Yang menjadikanku utuh dan cukup karena kebersamaanku dengan-Nya.
Engkau Tuhanku.
Aku ber-Tuhan.
Aku berterima kasih karena Kau ijinkan aku mengatakan, bahwa ...
Aku memiliki Tuhan.
Engkau lah yang memiliki semua,
maka sesungguhnya aku tak membutuhkan apa pun.
Aku hanya membutuhkan-Mu.
Karena, jika aku memiliki-Mu, aku memiliki semua.
Tuhan ku,
... amat dalam kecintaan ku kepada Mu
aku memohon ... dalam kerinduan ku untuk kelembutan kasih sayang Mu
... kasihilah aku.
... damaikanlah hatiku, indahkanlah wajahku, merdukanlah suaraku,
indahkanlah cara-caraku, baikkanlah hati sesamaku kepada ku,
kuatkanlah aku, mudahkanlah urusanku, baikkanlah rizki ku,
dan bahagiakanlah keluarga ku ...
Amien ...
...........
Duh …
seandainya pikiran ini tak dibatasi oleh bahasa …
alangkah indahnya kehidupan bagi jiwa yang bisa mengerti surga sebelum memasuki surga …
Sesungguhnya …
Tuhan tidak pernah menjadikan satu bahasa cukup untuk menggambarkan keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas,
agar kita meramahkan diri dalam mempelajari kelebihan sesama,
agar kita menerima perbedaan sebagai pengindah keberadaan,
dan semuanya itu …
agar kita menemukan cara untuk mengerti keindahan surga,
yaitu keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas.
Surga adalah keindahan kehidupan bagi jiwa yang ikhlas.
Maha Agung Tuhan dalam semua kebenaran-Nya.
………..
Sahabat saya yang hatinya dalam pemeliharaan Tuhan,
Berikut adalah dialog yang sering terjadi antara saya,
dengan jiwa saya:
………..
Jiwaku, … walaupun engkau dan aku ini – satu,
ini yang kuminta dari mu;
Wahai jiwaku, ikhlaslah.
Engkau dan aku berhak bagi keindahan hidup yang menjadi hak bagi jiwa yang ikhlas.
Maka, marilah kita berhenti hanya bertanya, tanpa bersungguh-sungguh mencoba.
Marilah kita berhenti mengharuskan Tuhan memenuhi syarat keraguan hati kita, sebelum kita ikhlas berupaya.
Marilah kita berhenti mensyaratkan semuanya mudah, sebelum kita bersedia berupaya.
Marilah kita berhenti meminta jaminan bahwa upaya kita akan dihargai oleh Tuhan, karena jaminan itu adalah kepastian bagi yang ikhlas.
Marilah kita berhenti menyalahkan Tuhan atas kelemahan-kelemahan kita, karena banyak orang yang tak sekuat kita – yang berhasil karena keikhlasannya.
Dan ini yang harus kita tetapkan sebagai kekuatan di hati kita, …
Agar kita memulai semua perjalanan menuju keberhasilan kita dari mana pun kita berada,
dengan modal apa pun yang sudah ada pada kita,
dan dengan sesegera mungkin,
dengan ketulusan dalam bekerja,
dan dengan keberserahan dalam menanti hasil dari upaya kita.
Bukankah kita mengetahui bahwa Tuhan Maha Perkasa dan Maha Kaya?
Maka terimalah ini dengan hatimu yang damai,
bahwa jika Tuhan cukup kau bahagiakan dengan kesungguhanmu,
Tuhan akan mencukupkan sekecil-kecil kekuatanmu,
untuk menyelesaikan sebesar-besar tugasmu.
Maha Besar Tuhan dalam kasih-sayang-Nya,
yang sangat mengasihi jiwa yang ikhlas.
Itu sebabnya, …
pribadi yang ikhlas - tampil lebih besar dari ukuran kemanusiannya,
dengan dia mudah melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh seribu orang,
yang mampu melihat yang tak terlihat,
yang bisa mendengar yang tak tersuarakan,
dan yang membatalkan peperangan hanya dengan menyentuh hati.
Jiwa yang ikhlas adalah jiwa yang sakti.
Itu sebabnya,
jiwa yang mampu memimpin dirinya sendiri
untuk keluar dari kekhawatiran, ketidak-tegasan,
penundaan, dan kemalasan,
memiliki semua potensi untuk memindahkan gunung.
Karena, jiwa yang ikhlas adalah jiwa yang sakti.
Tuhan mensaktikan jiwa-jiwa yang dikasihi-Nya.
………..
Sahabat saya yang mulia hatinya,
Ijinkanlah saya mencoba menyimpulkan, bahwa Anda tidak mungkin tidak ada dalam daftar jiwa-jiwa yang bersungguh-sungguh memuliakan kehidupannya, jika Anda tetap membaca sampai bait ini.
Hanya jiwa yang baik, yang mengenali upaya-upaya yang meminta ijin untuk membaikkan kehidupan.
Saya sangat terharu dan berhutang atas kebaikan hati Anda, dalam menghadiahkan diri bagi kebaikan sesama di ruang keluarga kita yang ramah dan santun ini.
Mudah-mudahan Tuhan segera membuka pintu-pintu rahmat di langit, agar tercurahkan rezeki yang menyejahterakan dan membahagiakan Anda dan keluarga tercinta.
Mudah-mudahan Tuhan menjadikan hari-hari libur yang indah ini sebagai masa penjernihan pikiran kita, masa pembeningan hati kita, dan masa pengindahan perilaku kita, agar kita bisa menjadi jiwa-jiwa ikhlas yang dicintai-Nya.
Sampai kita bertemu suatu ketika nanti ya?, agar kita bisa berlatih menggunakan kesantunan pergaulan dari jiwa-jiwa yang sudah dibangunkan rumah-rumah indahnya di surga.
Mario Teguh
Jumat, 14 Mei 2010
ETIKA BISNIS NABI MUHAMMAD SAW
1. Tauhid
Sistem etika Islam, yang meliputi kehidupan manusia di bumi secara keseluruhan, selalu tercermin dalam konsep tauhid yang dalam pengertian absolut, hanya berhubungan dengan Tuhan. Umat manusia tak lain adalah wadah kebenaran, dan harus memantulkan cahaya kemuliaannya dalam semua manifestasi duniawi:
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tidakkah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?. (Fushshilat: 53)
Tauhid, pada tingkat absolut menempatkan makhluk untuk melakukan penyerahan tanpa syarat pada kehendakNya:
Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali Hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. dia Telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.". (Yusuf: 40)
Dalam pengertian yang lebih dalam, konsep tauhid merupakan dimensi vertikal Islam. Tauhid memadukan di sepanjang garis vertikal segi politik, ekonomi, sosial, dan agama dari kehidupan manusia menjadi suatu kebulatan yang homogen dan konsisten. Tauhid rububiyyah merupakan keyakinan bahwa semua yang ada dialami ini adalah memiliki dan dikuasai oleh Allah SWT. Tauhid uluhiayyah menyatakan aturan darinya dalam menjalankan kehidupan. Kedua diterapkan Nabi Muhammad SAW dalam kegiatan ekonomi, bahwa setiap harta (aset) dalam transaksi bisnis hakekatnya milik Allah swt. Pelaku ekonomi (manusia) hanya mendapatkan amanah mengelola (istikhlaf), dan oleh karenanya seluruh aset dan anasir transaksi harus dikelola sesuai dengan ketentuan pemilik yang hakiki, yaitu Allah swt. Kepeloporan Nabi Muhammad saw. Dalam meninggalkan praktik riba (usury-interest), transaksi fiktif (gharar), perjudian dan spekulasi (Maysir) dan komoditi haram adalah wujud dari keyakinan tauhid ini.
2. Keseimbangan (Adil)
Pandangan Islam mengenai kehidupan berasal dari suatu persepsi Ilahi mengenai keharmonisan alam.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (Al Mulk: 3-4)
Sesungguhnya kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (QS Al-Qamar : 49).
Keseimbangan atau keharmonisan sosial, tak bersifat statis dalam pengertian suatu dalih untuk status quo, melainkan suatu sifat dinamis yang mengerahkan kekuatan hebat menentang segenap ketidakadilan. Keseimbangan juga harus terwujud dalam kehidupan ekonomi. Sungguh, dalam segala jenis bisnis yang dijalaninya, Nabi Muhammad Saw, menjadikan nilai adil sebagai standard utama. Kedudukan dan tanggung jawab para pelaku bisa ia bangun melalui prinsip “akad yang saling setuju”. Ia meninggalkan tradisi riba dan memasyarakatkan kontrak mudharobah (100% project financing) atau kontrak musyarakah (equity participation), karena sistem “Profit and lost sharing system”.
3. Kehendak Bebas
Salah satu kontribusi Islam yang paling orisinil dalam filsafat sosial adalah konsep mengenai manusia ‘bebas’. Hanya Tuhanlah yang mutlak bebas, tetapi dalam batas-batas skema penciptaan-Nya manusia juga secara bebas. Benar, Kemahatahuan Tuhan meliputi segala kegiatan manusia selama ia tinggal di bumi, tetap kebebasan manusia juga diberikan oleh Tuhan.
Prinsip kebebasan ini pun mengalir dalam ekonomi Islam Prinsip transaksi ekonomi yang menyatakan asas hukum ekonomi adalah halal, seolah mempersilahkan para pelakunya melaksanakan kegiatan ekonomi sesuai yang diinginkan, menumpahkan kreativitas, modifikasi dan ekspansi seluas sebesar-besarnya, bahkan transaksi bisnis dapat dilakukan dengan siapa pun secara lintas agama.
Dalam kaitan ini, kita memperoleh pelajaran yang begitu banyak dari Nabi Muhammad Saw, termasuk skema kerja sama bisnis yang dieksplorasi Nabi Muhammad Saw. Di luar praktek ribawi yang dianut masyarakat masa itu. Model-model usaha tersebut antara lain, mudharabah, musyrakah, murabahah, ‘ijarah, wakalah, salam, istishna, dan lain-lain.
4. Pertanggungjawaban
Selanjutnya, Nabi Muhammad Saw. mewariskan pula pilar tanggung jawab dalam kerangka dasar etika bisnisnya. Kebebasan harus diimbangi dengan pertanggungjawaban manusia, setelah menetukan daya pilih antara yang baik dan buruk, harus menjalani konsekuensi logisnya:
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (QS AI-Muddatstsir:3Cool.
Karena keuniversalan sifat al-'adl, maka setiap individu harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Tak seorang pun dapat lolos dari konsekuensi perbuatan jahatnya hanya dengan mencari kambing hitam. Manusia kan mendapatkan sesuai dengan apa yang diusahakannya.
Dan tidaklah seseorang berbuat dosa melainkan mudaratnya kembali kepada dirinya sendiri, dan seorang yang berdosa tak akan memikul dosa orang lain... (QS Al-An'am :164).
Bukan itu saja, manusia juga dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan yang berlangsung di sekitarnya. Karena itu, manusia telah diperingatkan lebih dahulu.
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antaramu... (QS Al-Anfal :25).
Pertanggungjawaban sepenuhnya atas ketiadaan usaha untuk membentuk masa depan yang lebih baik, juga dipikulkan atas pundak manusia:
Sesungguhnya Allah tak akan mengubah keadaan seseorang sampai mereka mengubah keadaan diri mereka... (QS Al-Ra'd: 11).
Wujud dari etika ini adalah terbangunnya transaksi yang fair dan bertanggungjawab. Nabi menunjukkan integritas yang tinggi dalam memenuhi segenap klausul kontraknya dengan pihak lain seperti dalam hal pelayanan kepada pembeli, pengiriman barang secara tepat waktu, dan kualitas barang yang dikirim. Di samping itu, beliau pun kerap mengaitkan suatu proses ekonomi dengan pengaruhnya terhadap masyarakat dan lingkungan. Untuk itu, ia melarang diperjualbelikannya produk-produk tertentu (yang dapat merusak masyarakat dan lingkungan).
HIKMAH
Suatu pelajaran yang bisa kita ambil bahwa dalam etika bisnis seseorang harus mencontoh ketauladanan Nabi Muhammad saw bahwa seorang muslim harus mempunyai tauhid yaitu menyerahkan segalanya kepada Allah swt. Karena semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah dan harus mematuhi semua aturan yang telah ditentukan olehnya. Seorang muslim harus adil dalam segala hal termasuk dalam bidang ekonomi, kebebasan berkehendak bagi seorang muslim yaitu melakukan apa saja dalam melakukan aktivitas ekonomi selama tidak melanggar yang telah ditentukan oleh Allah saw. Termasuk harus menjaga kehalalan barang atau jasa dalam aktivitas bisnis. Seorang muslim harus tanggungjawab yaitu bertanggungjawab dalam segala hal termasuk dalam bidang ekonomi/bisnis. Begitu juga bertanggung jawab atas kebebasan dalam bisnis.
sumber http://bisnisislami.bravehost.com/
Rabu, 17 Maret 2010
Beberapa Alasan Untuk Berbisnis
2. Agar mengerti apa itu Resiko
3. Agar berjiwa merdeka
4. Agar menghargai Silaturahmi
5. Agar berwawasan luas
6. Agar cerdas mengelola Anggaran
7. Agar bisa Belajar Kepemimpinan
8. Agar merasakan Indahnya Shadaqoh
9. Agar lebih peka untuk bersyukur dan bersabar
10.Agar merasakan Nikmatnya memberi manfaat bagi orang lain
Lebih lengkapnya baca ja buku best seller Gue Never Die karya Salim A. Fillah





